Selasa, 31 Maret 2015

MAU KEMANA GERAKAN MAHASISWA DI INDONESIA

QUO VADIS GERAKAN MAHASISWA
Oleh: Taryanto Wijaya[1]

Gerakan Mahasiswa terasa mandul sejak bersama rakyat berhasil menggulingkan rezim Order Baru. Seperti besar dalam kandang kampus saja. Kini mahasiswa lebih banyak disibukkan dengan urusan perkuliahan dan disekat dari kepekaan memahami dam menyikapi ketimpangan social politik dan ekonomi yang berkembang di sekitarnya. Kemana arah dan apa agenda gerakan mahasiswa pasca 2015?

Jika pada jaman sebelum kemerdekaan gerakan mahasiswa mencetuskan dan menggerakan upaya terbentuknya Negara, dan pada masa Orde Lama menghadang gerakan komunis, dan masa Orde Baru membongkar diktatorisme, maka kini gerakan mahasiwa tak terdengar lagi. Kadang hanya muncul sekilas melakukan protes disana-sini menyangkut kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan gerakan mahasiswa di Indonesia? Tulisan ini menelusuri akar persoalan dan upaya mengembalikan jatidiri gerakan mahasiswa.

Gerakan mahasiswa diikuti oleh mereka yang belajar di perguruan tinggi dan memiliki minat pada penyikapan atas masalah-masalah sekitar secara bersama.  Mahasiswa yang demikian jumlahnya tidak banyak karena hanya sekitar 5% dari jumlah mahasiswa yang ada. Kondisi demikian disebabkan oleh motivasi awal menjadi mahasiswa yang berbeda-beda dengan pengelompokan sebagai berikut. Pertama, student minded, yakni kelompok mahasiswa yang selama masa belajarnya ingin sesegera mungkin menyelesaiakan beban Sistem Kredit Semester (SKS) dan Tugas Akhir (TA), dan setelah itu bisa bekerja untuk bisa membantu orangtua atau saudara yang membiayai sekolah. Kelompok mahasiswa ini lebih banyak menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk urusan dari tempat tinggal-kampus-perpustakaan-laboratorium- tempat tinggal.  Jumlah mereka sekitar 70% dari mahasiswa yang ada.
Kedua, student oriented, yakni kelompok mahasiswa yang lebh banyak sibuk dengan perkuliahannya dan mencari hubungan ke luar kampus hanya dengan bidang-bidang yang sesuai dengan program studi atau jurusan yang diambil. Kelompok mahasiswa ini hanya akan memilih kegiatan-kegiatan ekstra yang berada di dalam kampus, dan berhubungan langsung dengan hobi atau minat bidang studi mereka. Kelompok ini sangat membatasi pergaulan lebih banyak dengan yang segaris dan menunjang proses dan hasil perkuiahan. Jumlah mereka sekitar  25% dari mahasiswa yang ada.
Ketiga, student transformed, yakni kelompok mahasiswa yang menjadikan kesibukan kuliah utamanya sebagai pondasi dasar untuk membangun kepribadian yang utuh dan kokoh di tengah perputaran tarik ulur perubahan social politik dan ekonomi serta intelektual yang terjadi di dalam, dan di luar kampus. Kesibukan kelompok mahasiswa ini sangat padat dan menantang serta luas. Bahkan cenderung kampus berkuliah hanya menjadi bagian kecilnya saja, dan kegiatan dengan organisasi ekstra kampus lebih intensif dan terhubung dengan gerakan-gerakan social politik dan ekonomi di luar kampus sebagai hal yang mengasah, menantang dan mempertajam idealisme yang dibangun. Jumlah mereka sekitar 5% dari mahasiswa yang ada.



[1] Direktur Lingkaran Studi Agama dan Pembangunan (LSAP), tinggal di Wonogiiri, mengelola program sarjana dan perubahan ekonomi pedesaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar