Selasa, 31 Maret 2015

Memperbaiki Gaya Berkomunikasi dalam Tim Kerja

MEMPERBAIKI GAYA BERKOMUNIKASI DALAM TIM KERJA
Oleh: Taryanto Wijaya[1]

Pembentukan Tim Kerja dan hasil yang ditetapkan tidak bisa berjalan baik tanpa komunikasi yang efektif. Komunikasi seseorang dalam tim diperlukan untuk bisa mengalirkan informasi ke satu atau beberapa pihak dan arah yang diperlukan guna mempermudah pengambilan keputusan. Namun, terdapat kesulitan untuk melakukan pengambilan keputusan ketika muncul sejumlah gaya komunikasi berbeda yang menimbulkan kesalahpahaman.

 Gaya berkomunikasi merupakan cara yang dipakai seseorang dalam menyampaikan buah pikiran dan pendapatnya kepada pihak lain dan cara menyikapi informasi dari pihak lain. Sebenarnya, secara ekstrim sikap seseorang terhadap suatu isu bisa dipilah menjadi tiga bagian. Pertama, sikap sepakat atas tindakan yang diambil, dan biasanya ditunjukan dengan gaya mengangguk, tersenyum, atau menunjukkan jari jempol. Kedua, sikap menolak atas tindak yang diambil, dan biasanya ditunjukan dengan gaya menggeleng kepala, mengalihkan pandangan. Ketiga, sikap ragu-ragu (abu-abu) antara setuju dan menolak, dan ini yang biasanya lebih sulit.
                Gaya komunikasi orang dipengaruhi oleh 3 faktor penting berikut. Pertama, penguasaan atas masalah atau isu yang dihadapi bersama dalam tim. Kedua, kenyamanan hubungan dalam tim kerja menyangkut beban kerja, kejelasan tugas, fasilitas yang mendukung, dan insentif atas kinerja. Ketiga, kondisi persoalan pribadi (rumah tangga, pekerjaan sambilan, hubungan dengan mertua, kerabat, tetangga) yang terbawa ke dalam situasi kerja dalam tim.

                Ketua Tim bertanggungjawab memperbaiki bahwa berbagai perbedaan gaya dalam tim tidak mempengaruhi kualitas dan efektifitas komunikasi yang terjadi. Kemampuan menenggang perbedaan gaya komunikasi dan menangkap makna di baliknya menjadi kunci penting. Untuk bisa demikian maka diperlukan tiga pendekatan sebenarnya sebagai berikut. Pertama, lakukan penjelasan singkat (briefing) tentang tujuan, sasaran dan tahapan kerja yang akan dilakukan, beserta kepastian siapa melakukan apa dengan cara bagaimana. Kedua, lakukan pencatatan atas informasi penting dan cek silang. Ketiga, berikan kesempatan yang cukup tiap anggota tim leluasa menyampaikan hasil kerja tanpa terlalu sering disela (interupsi) sebelum selesai berbicara. Keempat, sampaikan hasil kerja tim secara terbuka.




[1] Direktur Eksekutif pada Lembaga Studi Agama, Manajemen dan Pembangunan Berkelanjutan (LSAMPB), tinggal di Wonogiri, Solo. Beberapa tulisan lainnya bisa dilihat di http://taryantowijaya.blogspot.com/ dan di http://www.facebook.com/sukmorogosejati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar