MEMPERBAIKI GAYA BERKOMUNIKASI DALAM TIM KERJA
Oleh: Taryanto Wijaya[1]
Pembentukan Tim Kerja dan hasil yang ditetapkan tidak bisa
berjalan baik tanpa komunikasi yang efektif. Komunikasi seseorang dalam tim
diperlukan untuk bisa mengalirkan informasi ke satu atau beberapa pihak dan
arah yang diperlukan guna mempermudah pengambilan keputusan. Namun, terdapat
kesulitan untuk melakukan pengambilan keputusan ketika muncul sejumlah gaya
komunikasi berbeda yang menimbulkan kesalahpahaman.
Gaya
berkomunikasi merupakan cara yang dipakai seseorang dalam menyampaikan buah
pikiran dan pendapatnya kepada pihak lain dan cara menyikapi informasi dari
pihak lain. Sebenarnya, secara ekstrim sikap seseorang terhadap suatu isu bisa
dipilah menjadi tiga bagian. Pertama, sikap sepakat atas tindakan yang diambil,
dan biasanya ditunjukan dengan gaya mengangguk, tersenyum, atau menunjukkan
jari jempol. Kedua, sikap menolak atas tindak yang diambil, dan biasanya
ditunjukan dengan gaya menggeleng kepala, mengalihkan pandangan. Ketiga, sikap
ragu-ragu (abu-abu) antara setuju dan menolak, dan ini yang biasanya lebih
sulit.
Gaya komunikasi
orang dipengaruhi oleh 3 faktor penting berikut. Pertama, penguasaan atas
masalah atau isu yang dihadapi bersama dalam tim. Kedua, kenyamanan hubungan
dalam tim kerja menyangkut beban kerja, kejelasan tugas, fasilitas yang
mendukung, dan insentif atas kinerja. Ketiga, kondisi persoalan pribadi (rumah
tangga, pekerjaan sambilan, hubungan dengan mertua, kerabat, tetangga) yang
terbawa ke dalam situasi kerja dalam tim.
Ketua Tim bertanggungjawab
memperbaiki bahwa berbagai perbedaan gaya dalam tim tidak mempengaruhi kualitas
dan efektifitas komunikasi yang terjadi. Kemampuan menenggang perbedaan gaya
komunikasi dan menangkap makna di baliknya menjadi kunci penting. Untuk bisa
demikian maka diperlukan tiga pendekatan sebenarnya sebagai berikut. Pertama,
lakukan penjelasan singkat (briefing) tentang tujuan, sasaran
dan tahapan kerja yang akan dilakukan, beserta kepastian siapa melakukan apa
dengan cara bagaimana. Kedua, lakukan pencatatan atas informasi penting dan cek
silang. Ketiga, berikan kesempatan yang cukup tiap anggota tim leluasa
menyampaikan hasil kerja tanpa terlalu sering disela (interupsi) sebelum
selesai berbicara. Keempat, sampaikan hasil kerja tim secara terbuka.
[1]
Direktur Eksekutif pada Lembaga Studi Agama, Manajemen dan Pembangunan
Berkelanjutan (LSAMPB), tinggal di Wonogiri, Solo. Beberapa tulisan lainnya
bisa dilihat di http://taryantowijaya.blogspot.com/ dan di http://www.facebook.com/sukmorogosejati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar