BUDAYA MENCATAT ANTARA KEBUTUHAN DAN KEWAJIBAN
Oleh: Kyai Anom Sukmmorogo Sejati [1]
Meski tampaknya sepele, tetapi mencatat menjadi dasar
penting pengambilan keputusan dalam organisasi. Namun, banyak pekerja
perusahaan atau pegawai di unit usaha kurang terbiasa melakukan pencatatan atas
hal-hal penting yang terjadi dalam rapat, monitoring di lapangan, dan
pengarahan oleh atasan. Dalam ruang lingkup manajemen pencatatan yang benar
akan menjadi landasan penting pengambilan keputusan berdasar informasi tercatat
yang terpercaya.
Pada jaman dahulu
waktu jumlah informasi masih sederhana dan terbatas jumlahnya, berbagai
keputusan dan informasi kehidupan cukup diingat. Pada tahap berikutnya, informasi
keputusan kemudian disimpan dalam lembaran kayu, kain, batu dan lain-lain.
Sedangkan pada jaman mutakhir pencatatan keputusan organsiasi ditulis dalam
cakra penyimpanan (compact disk, flashdisk) secara terkomputer. Namun demikian,
kemajuan teknologi tidak menghilangkan arti penting mencatat dalam buku sebagai
proses dasar menyerap informasi utama sebelum dituangkan dalam media
penyimpanan lain.
Pada sejumlah
orang, mencatat keputusan maupun proses terkadang menjemukan dan menyebalkan.
Padahal jika dipahami maknanya budaya mencatat memiliki arti yang sangat penting
bagi pengembangan karir, bisnis. Karena, mencatat memiliki arti penting sebagai
berikut. Pertama, mencatat merupakan kegiatan intelektual yang mengharuskan
seseorang mencurahkan segenap perhatiannya untuk bisa memilah informasi yang
penting dan tidak penting. Kedua, mencatat merupakan sebuah cerminan
kepribadian, yang membantu menjelaskan seberapa jauh seseorang kepentingan (committed)
dan terlibat (involved) dalam proses sebuah rapat atau kegiatan organisasi
dan bisnis. Ketiga, mencatat memberikan batu pijakan penting saat seseorang
harus mengambil keputusan penting baik pada rapat formal dalam ruang maupun di
lapangan yang mengharuskan melihat data dan informasi, yang dengan itu
meminimalkan kesalahan pengambilan keputusan. Keempat, mencatat merupakan
penyediaan informasi dasar saat sistem yang lebih maju bermasalah dan tak bisa
dijangkau. Pada kondisi seperti ini, catatan yang terpelihara secara baik akan
menjadi rujukan utama dalam penyelematan organisasi dan bisnis dalam berbagai
skala. Keenam, mencatat juga membantu kita berhubungan dalam mengurus hak dan
kewajiban dengan pihak lain. Betapa pentingnya budaya mencatat.
[1]
Direktur Eksekutif pada Lembaga Studi Agama, Manajemen dan Pembangunan Berkelanjutan
(LSAMPB), tinggal di Wonogiri, Solo. Beberapa tulisan lainnya bisa dilihat di http://taryantowijaya.blogspot.com/ dan di http://www.facebook.com/sukmorogosejati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar