QUO VADIS GERAKAN MAHASISWA
Oleh: Taryanto Wijaya[1]
Gerakan Mahasiswa terasa mandul sejak bersama rakyat berhasil
menggulingkan rezim Order Baru. Seperti besar dalam kandang kampus saja. Kini
mahasiswa lebih banyak disibukkan dengan urusan perkuliahan dan disekat dari
kepekaan memahami dam menyikapi ketimpangan social politik dan ekonomi yang
berkembang di sekitarnya. Kemana arah dan apa agenda gerakan mahasiswa pasca
2015?
Jika pada jaman sebelum kemerdekaan gerakan mahasiswa mencetuskan dan
menggerakan upaya terbentuknya Negara, dan pada masa Orde Lama menghadang
gerakan komunis, dan masa Orde Baru membongkar diktatorisme, maka kini gerakan
mahasiwa tak terdengar lagi. Kadang hanya muncul sekilas melakukan protes
disana-sini menyangkut kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak. Apa
sebenarnya yang sedang terjadi dengan gerakan mahasiswa di Indonesia? Tulisan
ini menelusuri akar persoalan dan upaya mengembalikan jatidiri gerakan mahasiswa.
Gerakan mahasiswa diikuti oleh mereka yang belajar di perguruan tinggi
dan memiliki minat pada penyikapan atas masalah-masalah sekitar secara
bersama. Mahasiswa yang demikian
jumlahnya tidak banyak karena hanya sekitar 5% dari jumlah mahasiswa yang ada.
Kondisi demikian disebabkan oleh motivasi awal menjadi mahasiswa yang
berbeda-beda dengan pengelompokan sebagai berikut. Pertama, student
minded, yakni kelompok mahasiswa yang selama masa belajarnya ingin
sesegera mungkin menyelesaiakan beban Sistem Kredit Semester (SKS) dan Tugas
Akhir (TA), dan setelah itu bisa bekerja untuk bisa membantu orangtua atau
saudara yang membiayai sekolah. Kelompok mahasiswa ini lebih banyak
menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk urusan dari tempat
tinggal-kampus-perpustakaan-laboratorium- tempat tinggal. Jumlah mereka sekitar 70% dari mahasiswa yang
ada.
Kedua, student oriented, yakni kelompok mahasiswa yang lebh banyak
sibuk dengan perkuliahannya dan mencari hubungan ke luar kampus hanya dengan
bidang-bidang yang sesuai dengan program studi atau jurusan yang diambil.
Kelompok mahasiswa ini hanya akan memilih kegiatan-kegiatan ekstra yang berada
di dalam kampus, dan berhubungan langsung dengan hobi atau minat bidang studi
mereka. Kelompok ini sangat membatasi pergaulan lebih banyak dengan yang
segaris dan menunjang proses dan hasil perkuiahan. Jumlah mereka sekitar 25% dari mahasiswa yang ada.
Ketiga, student transformed, yakni kelompok mahasiswa yang menjadikan
kesibukan kuliah utamanya sebagai pondasi dasar untuk membangun kepribadian
yang utuh dan kokoh di tengah perputaran tarik ulur perubahan social politik
dan ekonomi serta intelektual yang terjadi di dalam, dan di luar kampus.
Kesibukan kelompok mahasiswa ini sangat padat dan menantang serta luas. Bahkan
cenderung kampus berkuliah hanya menjadi bagian kecilnya saja, dan kegiatan
dengan organisasi ekstra kampus lebih intensif dan terhubung dengan
gerakan-gerakan social politik dan ekonomi di luar kampus sebagai hal yang
mengasah, menantang dan mempertajam idealisme yang dibangun. Jumlah mereka
sekitar 5% dari mahasiswa yang ada.
[1]
Direktur Lingkaran Studi Agama dan Pembangunan (LSAP), tinggal di Wonogiiri,
mengelola program sarjana dan perubahan ekonomi pedesaan.
