MENGATASI PROBLEM INTEGRITAS DAN LOYALITAS PEGAWAI
Oleh: Taryanto Wijaya[1]
Bisnis memerlukan orang untuk pengelolaannya. Tidak
sembarang orang, melainkan yang memiliki kemampuan memadai, serta kesetiaan dan
tanggungjawab pada tugas. Terpenuhinya
hal tersebut memungkinkan perusahaan pengelola bisnis memiliki keuntungan demi
keuntungan dari waktu ke waktu secara berkelanjutan. Namun betapa malangnya
ketika pemilik usaha mengalokasikan sejumlah sumberdaya dan fasilitas, tetapi
hanya dipakai sebagai batu loncatan untuk meraih pekerjaan lebih lanjut di
perusahaan atau tempat kerja lain tanpa rasa tak nyaman sedikitpun. Inilah
problem integritas dan loyalitas pegawai. Lantas bagaimana mengatasinya?
Memahami Batin Pegawai
Di samping fisik dan perangkat kerja pegawai yang tampak dari luar,
terdapat cara pandang dari dalam pada diri begawai, sebut saja batin pegawai.
Meski tak tampak tetapi sangat berpengaruh kepada yang tampak. Batin pegawai
merupakan kerangka yang dipakai pegawai dalam memandang diri dan lingkungan
kerjanya. Ketika seorang masuk dalam lingkungan kerja mengharuskan dia untuk
membuat atau menyesuaikan dengan definisi baru tentang posisi, kewenangan, dan
peran baru yang harus dimainkan. Batin pegawai akan menjadi sesuatu yang
tersembunyi dan mewarnai cara berpikir, bersikap dan bertindak dalam lingkungan
kerja. Ketika muncul sejumlah ketidaksesuaian antara harapan sendiri dengan
posisi, kewenangan dan tugas baru yang harus dilakukan maka akan menimbulkan
sejumlah ketegangan. Kecemasan, ketegangan, dan salah tingah dan kesalahan
kerja, serta ketidakdisiplinan menjadi gejala permukaan yang tampak. Pada kondisi seperti ini ada ketidaksebangunan
antara harapan pribadi dengan harapan pimpinan tempat kerja. Kompensasinya
biasanya pegawai akan 1)membatasi diri pada apa yang menjadi tugasnya, 2)
menimbang nimbang peluang kerja tempat lain sembari menggarap tugas sekarang,
3) menggunakan fasilitas tempat kerja sekarang untuk meraih kesempatan dan
tambahan pendapatan dari tempat kerja lain.
Ketidaksebangunan peran ini menjadikan pegawai yang dimiliki tidak
menjadi penyokong utama tegak dan berlajunya perusahaan dalam jangka pendek,
menengah, maupun panjang. Pegawai dengan kondisi seperti ini biasa disebut
memiliki integritas rendah atau jelek. Bagi pemilik usaha, pegawai yang
demikian hanya akan menjadi pusat biaya. Terlebih ketika kinerja yang
ditunjukan jauh di bawah tingkat yang diharapkan berdasar latar belakang
pendidikan, keahlian dan pengalaman kerja sebelumnya.
Sedangkan dari segi daya dukung pegawai terhadap perusahaan, sangat
dipengaruhi oleh seberapa perusahaan memenuhi segi-segi keterjaminan dan
kenyamanan pegawai dalam jangka panjang, dan prestasi kerja yang dilakukan
pegawai mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang baik oleh perusahaan. Ketika
berbagai pengabdian dilakukan diremehkan nilainya, disepelekan perannya, maka
hal itu akan menorehkan luka pegawai yang menjadikannya enggan untuk setia.
Lama dan ketrampilan serta keahlian bekerja yang terbangun pada pegawai menjadi
hal penting bagi efisiensi dan kematangan bisnis perusahaan, dan pondasi
penting bagi ke kesetiaan (loyalitas) pegawai.
Integritas dan Loyalitas
Keterpaduan antara syarat kerja dengan yang bisa dipenuhi pegawai (integritas),
dan kesetiaan pegawai pada tujuan perusahaan (loyalitas) merupakan dua
pilar utama bisnis. Pemilikan atas dua pilar bisnis ini menjadi modal penting
dalam mempertahanan pegawai sebagai sumberdaya manusia perusahaan (corporate
human assets) yang penting bagi keberlanjutan perusahaan. Oleh
karena itu, maka pemenuhan persyaratan yang dibutuhkan untuk mengampu pekerjaan
sendiri maupun dengan mitra kerja membantu menunjukan bahwa perusahaan memiliki
integritas yang memadai. Integritas adalah bagian dari kekayaan perusahaan yang
memiliki nilai jual untuk mendapatkan peluang-peluang bisnis secara
berkelanjutan. Namun integritas itu tidak ada artinya jika tidak didukung oleh
loyalitas para pegawai yang bekerja di perusahaan sekedar bekerja tanpa ada
rasa memiliki dan bertanggungjawab terhadap operasional dan keberlanjutan
perusahaan.
Upaya Mengatasi
Untuk itu maka berdasar pengalaman sejumlah perusahaan yang telah
melewati masa – masa sulit bisnis, maka berikut adalah langkah yang bisa
ditempuh untuk mengatasi problem integritas dan loyalitas.
Pertama, pandang dan posisikan pegawai sebagai manusia yang
utuh yang bisa berkembang dengan kepercayaan, tanggungjawab dan faslitas
tertentu.
Kedua, lakukan komunikasi formal melalui rapat bersama, dan
informal melalui komunikasi pribadi untuk mendapatkan informasi yang lebih
jernih tentang kesulitas yang dihadapi dan potensi yang bisa didayagunakan
lebih lanjut pada pegawai.
Ketiga, berikan kritik membangun seperlunya atas kesalahan yang
dilakukan, dan berikan pujian atas kemampuan pegawai mengatasi masalah dan
mengembangkan potensi dimiliki dalam konteks kerja dan personal.
Keempat, sebarluaskan prestasi para pegawai untuk mendorong
yang lain, dan simpan baik kekurangan yang dianggap pegawai jika itu
disebarluaskan akan mengganggu kenyamanan bekerjanya.
Kelima, lakukan monitoring berkala untuk memastikan bahwa
fasilitas-fasilitas tempat kerja adalah digunakan untuk meningkatkan kinerja
perusahaan secara keseluruhan dan tidak disalahgunakan oleh pegawai.
Keenam, lakukan proses belajar antar mereka (peer learning)
untuk meningkatkan komunikasi, rasa berbagai antara tim-tim dalam departemen.
Demikianlah, semoga tulisan ini mengilhami untuk perbaikan perusahaan
kita.
Solo, 4 Mei 2015
[1] Direktur
pada Lembaga Studi Agama, Manajemen dan Pembangunan Berkelanjutan (LSAMPB),
aktif dalam pemberdayaan unit usaha untuk bisnis berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar