Senin, 04 Mei 2015

MENGATASI PROBLEM INTEGRITAS DAN LOYALITAS PEGAWAI
Oleh: Taryanto Wijaya[1]


Bisnis memerlukan orang untuk pengelolaannya. Tidak sembarang orang, melainkan yang memiliki kemampuan memadai, serta kesetiaan dan tanggungjawab pada tugas.  Terpenuhinya hal tersebut memungkinkan perusahaan pengelola bisnis memiliki keuntungan demi keuntungan dari waktu ke waktu secara berkelanjutan. Namun betapa malangnya ketika pemilik usaha mengalokasikan sejumlah sumberdaya dan fasilitas, tetapi hanya dipakai sebagai batu loncatan untuk meraih pekerjaan lebih lanjut di perusahaan atau tempat kerja lain tanpa rasa tak nyaman sedikitpun. Inilah problem integritas dan loyalitas pegawai. Lantas bagaimana mengatasinya?


Memahami Batin Pegawai
Di samping fisik dan perangkat kerja pegawai yang tampak dari luar, terdapat cara pandang dari dalam pada diri begawai, sebut saja batin pegawai. Meski tak tampak tetapi sangat berpengaruh kepada yang tampak. Batin pegawai merupakan kerangka yang dipakai pegawai dalam memandang diri dan lingkungan kerjanya. Ketika seorang masuk dalam lingkungan kerja mengharuskan dia untuk membuat atau menyesuaikan dengan definisi baru tentang posisi, kewenangan, dan peran baru yang harus dimainkan. Batin pegawai akan menjadi sesuatu yang tersembunyi dan mewarnai cara berpikir, bersikap dan bertindak dalam lingkungan kerja. Ketika muncul sejumlah ketidaksesuaian antara harapan sendiri dengan posisi, kewenangan dan tugas baru yang harus dilakukan maka akan menimbulkan sejumlah ketegangan. Kecemasan, ketegangan, dan salah tingah dan kesalahan kerja, serta ketidakdisiplinan menjadi gejala permukaan yang tampak.  Pada kondisi seperti ini ada ketidaksebangunan antara harapan pribadi dengan harapan pimpinan tempat kerja. Kompensasinya biasanya pegawai akan 1)membatasi diri pada apa yang menjadi tugasnya, 2) menimbang nimbang peluang kerja tempat lain sembari menggarap tugas sekarang, 3) menggunakan fasilitas tempat kerja sekarang untuk meraih kesempatan dan tambahan pendapatan dari tempat kerja lain.  Ketidaksebangunan peran ini menjadikan pegawai yang dimiliki tidak menjadi penyokong utama tegak dan berlajunya perusahaan dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Pegawai dengan kondisi seperti ini biasa disebut memiliki integritas rendah atau jelek. Bagi pemilik usaha, pegawai yang demikian hanya akan menjadi pusat biaya. Terlebih ketika kinerja yang ditunjukan jauh di bawah tingkat yang diharapkan berdasar latar belakang pendidikan, keahlian dan pengalaman kerja sebelumnya.

Sedangkan dari segi daya dukung pegawai terhadap perusahaan, sangat dipengaruhi oleh seberapa perusahaan memenuhi segi-segi keterjaminan dan kenyamanan pegawai dalam jangka panjang, dan prestasi kerja yang dilakukan pegawai mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang baik oleh perusahaan. Ketika berbagai pengabdian dilakukan diremehkan nilainya, disepelekan perannya, maka hal itu akan menorehkan luka pegawai yang menjadikannya enggan untuk setia. Lama dan ketrampilan serta keahlian bekerja yang terbangun pada pegawai menjadi hal penting bagi efisiensi dan kematangan bisnis perusahaan, dan pondasi penting bagi ke kesetiaan (loyalitas) pegawai.

Integritas dan Loyalitas
Keterpaduan antara syarat kerja dengan yang bisa dipenuhi pegawai (integritas), dan kesetiaan pegawai pada tujuan perusahaan (loyalitas) merupakan dua pilar utama bisnis. Pemilikan atas dua pilar bisnis ini menjadi modal penting dalam mempertahanan pegawai sebagai sumberdaya manusia perusahaan (corporate human assets)  yang  penting bagi keberlanjutan perusahaan. Oleh karena itu, maka pemenuhan persyaratan yang dibutuhkan untuk mengampu pekerjaan sendiri maupun dengan mitra kerja membantu menunjukan bahwa perusahaan memiliki integritas yang memadai. Integritas adalah bagian dari kekayaan perusahaan yang memiliki nilai jual untuk mendapatkan peluang-peluang bisnis secara berkelanjutan. Namun integritas itu tidak ada artinya jika tidak didukung oleh loyalitas para pegawai yang bekerja di perusahaan sekedar bekerja tanpa ada rasa memiliki dan bertanggungjawab terhadap operasional dan keberlanjutan perusahaan.

Upaya Mengatasi
Untuk itu maka berdasar pengalaman sejumlah perusahaan yang telah melewati masa – masa sulit bisnis, maka berikut adalah langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi problem integritas dan loyalitas.
Pertama, pandang dan posisikan pegawai sebagai manusia yang utuh yang bisa berkembang dengan kepercayaan, tanggungjawab dan faslitas tertentu.
Kedua, lakukan komunikasi formal melalui rapat bersama, dan informal melalui komunikasi pribadi untuk mendapatkan informasi yang lebih jernih tentang kesulitas yang dihadapi dan potensi yang bisa didayagunakan lebih lanjut pada pegawai.
Ketiga, berikan kritik membangun seperlunya atas kesalahan yang dilakukan, dan berikan pujian atas kemampuan pegawai mengatasi masalah dan mengembangkan potensi dimiliki dalam konteks kerja dan personal.
Keempat, sebarluaskan prestasi para pegawai untuk mendorong yang lain, dan simpan baik kekurangan yang dianggap pegawai jika itu disebarluaskan akan mengganggu kenyamanan bekerjanya.
Kelima, lakukan monitoring berkala untuk memastikan bahwa fasilitas-fasilitas tempat kerja adalah digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan dan tidak disalahgunakan oleh pegawai.
Keenam, lakukan proses belajar antar mereka (peer learning) untuk meningkatkan komunikasi, rasa berbagai antara tim-tim dalam departemen.

Demikianlah, semoga tulisan ini mengilhami untuk perbaikan perusahaan kita.

Solo, 4 Mei 2015






[1] Direktur pada Lembaga Studi Agama, Manajemen dan Pembangunan Berkelanjutan (LSAMPB), aktif dalam pemberdayaan unit usaha untuk bisnis berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar