Oleh: Kyai Anom Sukmorogo Sejati
Bagi sejumlah orang desa tidak menarik untuk bisnis. Minimnya infrastruktur jalan, transportasi, komunikasi, dan mentalitas orang desa yang tidak disiplin menjadi alasan paling lazim mengapa orang tidak memulai bisnis di pedesaan. Padahal, 70% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan menghasilkan sumberdaya pemenuh kebutuhan pangan, perumahan, dan industry yang ada di kota-kota. Seberapa besar peluang bisnis di pedesaan pada era globalisasi ini?
Mengenal Logika Bisnis
Logika Bisnis merupakan sebuah cara bagaimana bisnis bekerja dengan pola penalaran tertentu dalam meraih keuntungan. Untuk bisa bekerja bisnis mengandalkan ketersediaan informasi yang pasti mengenai 1) masukan (input) berupa bahan baku, tenaga kerja, permintaan pasar, 2) pengolahan (processing) berupa tenaga dengan ketrampilan dan keahlian tertentu, alat dan mesin pengolah, dan sarana administrasi penunjang; dan 3) keluaran (output) berupa barang atau jasa yang diperlukan oleh para konsumen. Logika di atas menuntut adanya pembiayaan dan penggunaan sumberdaya yang sesedikit mungkin untuk menghasilkan keuntungan yang sebanyak mungkin. Ketika hal tersebut bisa dipenuhi sebenarnya bisnis di kota maupun di desa sama saja, hanya dengan perbedaan-perbedaan kecil.
Logika Bisnis merupakan sebuah cara bagaimana bisnis bekerja dengan pola penalaran tertentu dalam meraih keuntungan. Untuk bisa bekerja bisnis mengandalkan ketersediaan informasi yang pasti mengenai 1) masukan (input) berupa bahan baku, tenaga kerja, permintaan pasar, 2) pengolahan (processing) berupa tenaga dengan ketrampilan dan keahlian tertentu, alat dan mesin pengolah, dan sarana administrasi penunjang; dan 3) keluaran (output) berupa barang atau jasa yang diperlukan oleh para konsumen. Logika di atas menuntut adanya pembiayaan dan penggunaan sumberdaya yang sesedikit mungkin untuk menghasilkan keuntungan yang sebanyak mungkin. Ketika hal tersebut bisa dipenuhi sebenarnya bisnis di kota maupun di desa sama saja, hanya dengan perbedaan-perbedaan kecil.
Potensi dan Kendala Bisnis Pedesaan
Pedesaan merupakan andalan untuk pasokan beberapa sumberdaya sebagai berikut : 1) bahan makanan (beras, jagung, gandung, sayur, buah, susu, daging, dan serat), 2) bahan untuk perumahan dan sarana umum (kayu, batu, pasir, bata, tanah, atap), 3) sumber tenaga kerja dan keahlian (untuk bidang kontruksi, instalasi, barang maupun jasa), 4) kelembagaan sosial yang terkendali secara bersama-sama.
Pedesaan merupakan andalan untuk pasokan beberapa sumberdaya sebagai berikut : 1) bahan makanan (beras, jagung, gandung, sayur, buah, susu, daging, dan serat), 2) bahan untuk perumahan dan sarana umum (kayu, batu, pasir, bata, tanah, atap), 3) sumber tenaga kerja dan keahlian (untuk bidang kontruksi, instalasi, barang maupun jasa), 4) kelembagaan sosial yang terkendali secara bersama-sama.
Di samping sejumlah potensi tersebut, terdapat pula sejumlah kebiasaan yang kurang mendukung bisnis sebagai berikut: 1) pengambilan keputusan yang cenderung lama karena mengutamakan kebersamaan, 2) sifat produk yang mudah usang dan membusuk (obsolete), khususnya dari produk pertanian dan perkebunan, 3) produknya umumnya masih dalam bentuk asli (in natura) dan masih membutuhkan proses lanjut dan belum siap pakai dengan standar khusus (spesifikasi) yang dibutuhkan, 4) minimnya angkutan yang memadai dan efisien untuk memastikan pasokan bahan baku tepat waktu, jumlah dan mutu, 5) minimnya dukungan sarana komunikasi yang efektif dan cepat untuk mengambil keputusan bisnis.
Membangun Nilai Tambah
Selama ini banyak nilai tambah sumberdaya pedesaan lebih banyak dinikmati oleh orang kota. Sehingga para petani di desa hanya mendapatkan pengganti biaya produksi dan keuntungan hanya antara 5-15% dari nilai jual produk akhir. Ini terjadi karena sebagian besar sumberdaya pedesaan dijual dalam bentuk mentah. Kemampuan membangun nilai tambah pada rangkaian produksi barang dan jasa dari desa hingga ke konsumen akhir itulah sebenarnya yang menjadi ranah (domain) untuk memulai bisnis di desa. Beberapa gagasan bisnis yang bisa mulai dikembangkan di desa adalah sebagai berikut, dan mana yang cocok untuk investasi dan minat anda: 1) pengadaan sarana transportasi hasil pertanian, perkebunan dan kehutanan, 2) pengolahan hasil pertanian dan kehutanan menjadi barang setengah jadi (penggilingan beras dan jagung dan gandung menjadi tepung, atau penggergajian kayu glondong (logs) menjadi kayu papan (sawn timber), bamboo menjadi bahan anyaman , dinding, tikar, dll; 3) kursus ketrampilan rumah tangga (menjahit, kuliner, kerajinan tangan), dan kerajinan teknologi (mesin otomotif, computer, disain grafis). 4) lain-lain yang relevan.
Selama ini banyak nilai tambah sumberdaya pedesaan lebih banyak dinikmati oleh orang kota. Sehingga para petani di desa hanya mendapatkan pengganti biaya produksi dan keuntungan hanya antara 5-15% dari nilai jual produk akhir. Ini terjadi karena sebagian besar sumberdaya pedesaan dijual dalam bentuk mentah. Kemampuan membangun nilai tambah pada rangkaian produksi barang dan jasa dari desa hingga ke konsumen akhir itulah sebenarnya yang menjadi ranah (domain) untuk memulai bisnis di desa. Beberapa gagasan bisnis yang bisa mulai dikembangkan di desa adalah sebagai berikut, dan mana yang cocok untuk investasi dan minat anda: 1) pengadaan sarana transportasi hasil pertanian, perkebunan dan kehutanan, 2) pengolahan hasil pertanian dan kehutanan menjadi barang setengah jadi (penggilingan beras dan jagung dan gandung menjadi tepung, atau penggergajian kayu glondong (logs) menjadi kayu papan (sawn timber), bamboo menjadi bahan anyaman , dinding, tikar, dll; 3) kursus ketrampilan rumah tangga (menjahit, kuliner, kerajinan tangan), dan kerajinan teknologi (mesin otomotif, computer, disain grafis). 4) lain-lain yang relevan.
Begitulah sebenarnya desa memiliki banyak sumberdaya penting, tinggal memulai bisa dengan pilihan dikelola sendiri, bermitra dengan lembaga pengembangan masyarakat, atau bermintra dengan unit bisnis yang sudah berpengalaman di desa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar