MENGAPA MESTI BEKERJA DAN BERBISNIS
oleh: Taryanto Wijaya
Dalam kehidupan sehar-hari kita
melihat petani pergi ke lahan, pedagang ke pasar dan toko, pegawai ke kantor,
buruh ke pabrik, pekerja seni ke sanggar atau studio mereka, para politis ke
gedung parlemen. Para pebisnis rapat dan negosiasi dagang di tempat ngopi, bilyard,
tenis, atau golf. Semuanya dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidup orang, keluarga, badan usaha dan Negara. Namun
demikian jarang orang menanyakan kenapa itu semua dilakukan.
Saat ditanya maka akan muncul dua
alasan utama yakni agar terus hidup dan berkembang, dan agar bisa meninggalkan
generasi di belakang yang lebih kuat dan baik. Itulah keadaan yang menunjukan
bahwa kian modern orang maka kian banyak kebutuhannya, dan kian taktis dalam
melangkah untuk mencapainya.
Semua orang ingin tetap dan terus
hidup secara lebih baik dari waktu-ke waktu. Sebagian besar pemenuh kebutuhan
manusia ada di luar dirinya. Memang, untuk mencapai kebutuhan dasar ini memang
memerlukan upaya yang luar biasa. Pada
setiap orang ada dorongan untuk bertahan dan berkembang hidupnya dari masa ke
masa. Dorongan dari dalam berupa keinginan untuk bekerja, berbisnis dan
berekspresi, itulah yang menurut Sigmund Freud disebut sebagai eros.
Selanjutnya dorongan untuk
meninggakan orang-orang tercinta dengan keadaan yang cukup pangan, sandang,
papan, dan pendidikan serta pekerjaan dan bisnis yang berkelanjutan merupakan
apa yang diwebut oleh Sigmund Freud sebagai thanatos.
Jasad manusia ini merupakan tubuh
fisik yang memerlukan asupan untuk bisa beradapatasi dengan perubahan di
lingkungannya, serta berjalan melakukan keputusan-keputusan pikiran. Sedangkan
pikiran-pikiran itu dikendalikan oleh dorongan untuk hidup dan berkembang
(eros) maupun untuk bisa mengakhir kehidupan dengan mulia (thanatos).
Dalam pandangan Sigmund Freud
tidak ada ruh murni, yang ada adalah tarik ulur dorongan untuk hidup dan
mengakhiri kehidupan yang tersimpan di dalam alam bawah sadar (unconscious)
yang kemudian mempengaruhi keputusan-keputusan harus melakukan apa, dengan cara
bagaimana ke arah mana untuk memenuhi apa.
Sementara itu sebagian besar pemenuh kebutuhan manusia ada di luar
dirinya. Hal ini lah yang mendorong setiap orang untuk bekerja, berdagang,
berbisnis dan berkarya.
Sedangkan dalam pandangan
agama-agama, dimana Sigmund Freud tidak setuju, motivasi kerja adalah sebagai
bentuk pengabdian kepada Tuhan, dan memenuhi hubungan dengan sesama dan
ligkungan, untuk mendapatkan pemenuh kebutuhan hidup. Berbeda dengan pandangan
agama, Freud mengatakan bahwa dalam
rangka mendapatkan rasa tenang maka manusia menciptakan bayangan dalam pikirannya
yang memiliki kekuatan besar untuk
mempengaruhi apa yang dia inginkan di alam kehidupan sehari-hari dan kehidupan
nanti setelah manusia mati. Dalam
pandangan Freud, tuhan itu illusi manusia , dan jika manusia lebih sibuk dengan
urusan illusinya, ia khawatir illusi itu akan menyekatnya dari mengenal
kenyataan hidup yang harusnya diatasi secara rasional. (Lihat Daniel L. Pals,
Seven Theories of Reliion, IRCiSoD, 2011).
Atas pandangan Sigmund Freud di atas, maka catatan
tepi bagi kita tentang alasan utama
bekerja dan berbisnis secara ringkas adalah sebagai berikut:
1) Ada
kebutuhan dasar yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan menunggu dan mengandalkan
pasokan alami, dan harus melakukan proses produksi dengan bekerja dan
berbisnis.
2) Seseorang
berkembang hubungan sosialnya dari individu bebas menjadi manusia terikat yang
harus menanggung beban hidup keluarga dan masyarakat. Seseorang menjadi suami
atau istri secara sosial berkewajiban memenuhi kebutuhan dasarnya.
3) Terdapat
keilmuan dan keahlian yang dimiliki seseorang dan dibutuhkan orang lain atau
masyarakat lain dan dalam penerapannya memungkinkan terjadi imbal balas jasa
secara ekonomi dan sosial serta intelektual.
4) Seseorang
berada dan menjadi bagian dari suatu organisasi bisnis yang harus mencipta,
mengolah, memasrkan barang dan jasa
serta keahlian ke pasar melalui proses bisnis.
5) Kesadaran
bernegara di mana sumberdaya yang ada di wilayah Negara tinggal butuh
dieksplorasi dan diolah untuk menambah tingkat kesejahteraan masyarakat.
6) Kesadaran
sebagai umat beragama dimana bekerja dan berbisnis menjadi wahana untuk
mendapatkan penghasilan yang halal sebagai pemenuh kebutuhan sendiri, dan
pemenuh kewajiban-kewajiban agama (zakat, infak, shodaqoh, derma, kontribusi,
dan perjalanan suci) yang hanya bisa dilakukan jika seseorang memiliki
kelebihan dari kerja dan bisnisnya.
Wonogiri, 18
Februari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar